Tampilkan postingan dengan label a story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label a story. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2009

ArCa KetiDaKSadaRan 000105


Kumasuki dimensi yang berbeda…Kurasakan hawa dingin menyeruak..membuat tubuhku terbang berputar-putar… lalu jatuh dan menghantam pasir putih di bibir pantai yang begitu indah. Aku sempat terkejut melihatnya…pantai itu begitu indah. Beralaskan pasir-pasir putih dan berhiaskan kerang-kerang. Kususuri bibir-bibir pantai itu dan berlari-lari merasakan hembusan angin dan tarian dedaunan pohon kelapa. Kunikmati keindahan pantai itu sendiri____Berlari dalam kesendirian___Kesendirian yang kunikmati…tapi aku merasa sepi...
Tiba-tiba ku hentikan langkahku. Dan kulihat ada awan hitam yang berada di ujung langit yang lambat-laun berubah menjadi putih dan memunculkan cahaya. Tak lama setelahnya... muncullah malaikat dari balik cahaya itu. Dia turun menghampiriku dan tiba-tiba memelukku. Dia mendekapku lembut dengan sayap putihnya.. dan kurasakan sayap itu memancarkan kehangatan dari sela-sela bulunya, yang meneduhkan jiwaku. Dekapan itu begitu membuatku sangat nyaman.... Dalam peluknya, dia membisikan kata ”ikutlah denganku...dan kau akan merasakan kebahagian..perasaan bahagia yang takterkira...”
Tapi aku tak mengerti, bisikan itu malah sontak membuatku jatuh terkulai di pasir. Kurasakan tubuhku mengejang... lalu lambatlaun terasa ringan...dan rohkupun serasa hendak memisahkan diri. Dengan senyum lembutnya, malaikat itu justru berkata ”ayo...cepat keluar dan terbanglah bersamaku !!! ikutlah bersamaku..!!” perintahnya.
Akupun berusaha tuk memisahkan diri dari ragaku. Ku hentakkan rohku kuat-kuat...tapi rohku justru serasa semakin menempel dan berusaha menyatukan diri lagi. Ujung jari kakikupun serasa meremang...berubah menjadi dingin...dan membeku. Kebekuan itu serasa merambat terus membekukan semua aliran darahku.
Perasaan itu membuatku begitu teramat panik. Sertamerta aku berteriak dan memohon si malaikat untuk membantuku dan keluar dari perasaan ini. Namun tak kulihat sedikitpun dia menggerakkan diri untuk membantuku. Dia tetap tegak berdiri melayang didepanku... tersenyum dan justru berkata ”hanya kau yang bisa membebaskan dirimu sendiri... Ayo!! kau bisa terbebas...Ayo lelehkan es itu!!” pintanya.
Kata-katanya membuatku sedih, karna kupikir dia akan membantuku. Aku merintih...dan terus berusaha melepaskan diri dari kebekuan...tapi hawa dingin itu terus menyeruak... menjalari seisi ragaku...dari ujung kaki...dan terus naik...hingga terhenti di leher. Dingin itu serasa meremas leherku dan mencekikku_____ Ku tekan rasa itu, dan sekuat tenaga berusaha melelehkan rasa dingin dan kebekuan yang menjalari nadi-nadiku...sekuat tenaga..dan sekuat tenaga...kulelehkan kebekuan itu dengan sisa-sisa panas dalam ragaku.
Setelah beberapa saat... akupun berhasil...kebekuan seperti bongkahan es itu lama-lama mulai mencair. Kurasakan ragaku semakin hangat...tapi... lambat laun kehangatan itu berubah menjadi panas... ragaku berubah meremang...panas...seakan buliran api menjilati seluruh nadiku...kemudian aku berusaha lagi menenangkan diri dan mengenyahkan rasa itu dari ragaku...dan tak lama, panas itu mereda dan tiba-tiba aku kehilangan seluruh rasa dalam ragaku. aku tak merasakan hawa panas ataupun dingin menyetuh sedikit saja di ragaku.
Sang malaikat kemudian mendekatiku yang masih terkulai beralaskan pasir pantai. Dia menyodorkan tangannya... hendak membantuku berdiri dan mengajakku terbang bebas menuju cahaya____ Akupun berusaha bangun dan meraih tangannya. Tanganku sedikit mengejang... Serasa terkena sengatan listrik ketika menyentuh tangannya.. tapi aku tak memperdulikan itu semua. Ku pegang tangannya dan berusaha bangun. Dia lantas menggandeng tanganku dan membawaku terbang. Kami melayang.... Namun, ketika kami hendak terbang menuju cahaya.. muncullah dua malaikat kecil di kedua sisiku. Mereka memberiku bintang yang bercahaya. Ketika bintang itu mereka berikan...bersamaan dengan itu, kurasakan kesejukan menyelimutiku. Malaikat dan kedua malaikat kecil itu tersenyum padaku... menganggukkan kepala serasa memberi arti saatnya untuk terbang menuju cahaya dan meninggalkan pantai____ akupun membalas senyum mereka dan beranjak terbang meninggalkan pantai___
Namun..tiba-tiba ditengah perjalanan terbang kami, ada sesuatu yang masih mengganjal jiwaku...dan akupun terhenti... Kutoleh lagi kebawah... dan ternyata kulihat diriku yang lain masih terbaring di bibir pantai dan hanya beralaskan pasir pantai. Aku tersontak melihatnya dan perlahan turun...hendak mendekatinya dan membawanya bersamaku. Tapi para malaikat itu meraih tanganku, serasa ingin mencegahku turun. Kulibaskan tangan mereka dan hendak bergegas turun. Saat aku berusaha turun tuk menggapainya...kurasakan hantaman udara menyerbuku dari bawah seakan tidak memeperkenankan aku tuk mendekati diriku yang lain yang terkulai di bawah. para malaikat itu juga terusmenerus memanggilku dan memperingatkanku ”Berhenti..!! jangan perdulikan dia...ikutlah bersama kami..!!ikutlah bersama kami...cepat... sebelum cahaya diatas itu menghilang..!!” perintah mereka.
Tak ku perdulikan semuanya. Aku tetap berusaha turun dan menggapai diriku yang lain di bawah itu,meskipun aku harus elawan dan menembus hantaman udara yang menyerbuku dari bawah. Dan akupun berhasil.. Aku bergegas mendekati diriku yang lain itu dan berusaha menyatukan diri dengannya. Ketika aku berbaring diatasnya dan berusaha menyatukan diri...seluruh tubuh inipun kembali diselimuti udara panas. Kami menyatu...dan kurasakan tubuh ini melayang...meski kusadari..kini aku masih terkulai di bibir pantai beralaskan pasir putih...dan ketika kubuka mataku dan berdiri memandang kelangit-langit tempatku terbang...tak kulihat lagi cahaya putih dan para malaikat itu....................

Senin, 09 Februari 2009

Menunggu Mentari Pagi

Pagi itu kuputuskan mengayuh mesin roda duaku tuk menunggumu dan menanti kemunculanmu.

Kukayuh mesin roda duaku tuk menanti kemunculanmu di bukit kedamaianku.


“Haah…akhirnya berada di sini lagi..” desisku dengan ulaian senyum.


Angin, telah menyambutku disana…pandangan kehidupan alampun langsung tertampik ke kedua mataku.


“Subhannalloh….” kalimat itupun terus melaju dalam jiwa dan kognisiku.


Ku naiki bukit kecil tempatku biasa bermanja dengan pohon yang meneduhkanku tiap aku duduk dan berbaring disana…Angin dan wangi rerumputanpun kembali menyambutku…


”subhannalloh…kesejukan ini kembali meraup buliran jiwaku..


Aku duduk ditemani rerumputan, pelukan kesejukan embun pagi dan lindungan sang pohon…


Kupandang lukisan alam raya yang terhampar di depan kedua mataku...kupandangi langit biru yang berselimutkan putihnya kabut tipis.. dan kulihat cahayamupun hampir menampakkan diri…kupu-kupupun mulai berlenggang didepanku seorang diri. Tarian dan nyanyian burung-burungpun juga menampakan diri diiringi musik sang angin pagi..


Ku tutup mataku dan mulai berusaha menyatu dengan semua itu.. Pelukan sang angin mulai merasuk tulang-tulangku diikuti nyanyian lembut sang rumput dan para dedaunan yang menari tertiup angin...lalu nyanyian kecentilan burung dan jangkrikpun melenggang dan sayup-sayup..suara mesin-mesin tak berjiwa itu juga ingin memainkan perannya…

Kututup mataku dan seluruh nada itu kurasakan mengalun lembut dalam nafasku…..rasa yang begitu membuatku sakau…


Dalam damai yang membuatku sakau ini aku menunggu kemunculanmu... Aku menunggu cahayamu yang menghangatkan ragaku. Kutunggu..dan kutunggu engkau dalam pikirku yang kukira kan menampakkan diri. Ku tunggu..dan kutunggu dalam damaiku, tapi awanpun masih mulai menyelimutimu. Kutunggu...dan kutunggu lagi..tanpa kejenuhan dalam benakku. Kutunggu...dan kutunggu lagi dalam damaiku ditemani nyanyian alam ini dan wangi sang rerumputan dan embun pagi... Ku tunggu dan kutunggu, tapi kau tetap menutup diri. Ku tunggu sampai waktupun mulai perlahan meninggalkan diri dan kau pun masih terselimuti...

Akhirnya waktu delapan pagipun ku putuskan beranjak pergi, karna otakkupun berkata ” aku tetap tak kan mendapatimu pagi ini”...tapi aku pasti kembali ke bukit itu menunggu kemunculanmu lagi...


Menunggu kemunculanmu dalam damaiku....


Merasakan sakau itu lagi...

Jumat, 06 Februari 2009

Jalinan Sulaman Dalam Benakku

Tiba2 jaring laba2 tersulam-sulam dalam benakku. Satu persatu, laba-laba itu mengais-ngais dan menyulamkan jaringnya perlahan-lahan...
Apa yg sebenarnya terjadi pada memoriku meluap lagi... Isi kepalaku memuntahkan semuanya kembali, ketika kata-kata itu kau ucap.

"Salahkah jika aku mengingatnya??" benakku pun bicara
"tidak" dan ini tetap menjadi jawabku..
Dan "tidak" tetap menjadi jawabku meski merekapun juga mendoktrin bahwa ruang-ruangku masih terisi olehmu...
Dan "tidak" tetap menjadi jawabku....karena inilah rasa yang hanya aku saja yang mengerti bukan... dan bukankah tak menjadi sebuah larangan kalo gulungan memori terkadang memainkan semuanya dalam otakku??

Verbalisasi itu akhirnya keluar dari mulut seorang engkau..dan tahukah??tak hanya otakku saja yang tersulam, tapi juga jiwa ini..sungguh..rasa yang begitu tercampur aduk...
Kadang diri ini bertanya dan membenarkan sendiri...lalu tetap terbesit kata "tidak" pula ...namun tiba-tiba itu terbesit lagi, dan membawaku dalam alam lalu.

Kau Berkata seakan nadaku kau dengar...kau menatap, seakan nadaku kau rasa...
Tapi terbesit lagi tanya "benarkah nada ini terdengar??"
"benarkah nadaku selama ini selalu kau dengar??"

Separuh otak ini mulai membenarkan asumsi...tp kadang terbesit kata "tidak" lagi..
Separuh otak ini mencoba bertanya lagi "apa benar kau telah mendengar nadaku selama ini?? itukah kenapa kau mampu menjawab gumanan bodoh dalam otak yang terlontar dalam mulut ini?...yang justru lantas membuat otakku terkena kejutan listrik.."

Gulungan memori ini mulai memutarmu kembali...membuat otakku harus menguras tenaganya lagi.....tapi....itulah gulungan memory...

Ktika otak ini mulai mendaktik dirinya...dan jiwa perlahan-lahan mengikutinya...tiba-tiba...separuh dari keseluruhan itu kembali bicara; "biarlah semua berjalan semestinya... semestinya kita melangkah...semestinya angin yang membawa kita...semestinya jalan yang kita tapaki masing-masing..."

Kau membuatku belajar...dan ku tau...akupun juga membuatmu belajar...

Kau tak tinggalkanku...dan akupun juga tak tinggalkan kau...

Inilah adalah pembelajaran terindah...keindahan sebuah pembelajaran...

Album pembelajaran ini tak ku buang begitu saja...hanya ku tu2p..dan kan tersimpan...
Namun ketika album itu ku buka...bukanlah arti bahwa jiwa dan separoh nafas itu kembali..
Karna jiwa dan separoh nafas ini tak menempatkanmu didalamnya lagi...

Aku menemukannya...dan diapun juga menemukanku...
Dia bukan aku...Dia bukan kau...dan Diapun bukan mereka...
Dia membuatku memberikan ketulusan....

Dia membuatku ----------

Dan dia membuatku menempatkanya dalam separoh jiwa dan nafas ini....


Rabu, 14 Januari 2009

LiFe is an Audition

Kehidupan adalah sebuah audisi. Audisi seekor ulat tuk mencapai bentuk kupu-kupu yang indah dan dapat terbang selayaknya gumpalan awan yang mengapung di langit-langit dengan ringannya.
Sebelum mencapai pembentukan kupu-kupu, ulat kecil itu hanya mampu menggigil ketika diterpa semilir angin dan membuka hatinya untuk sang fajar. Dan meringkuk kembali takkala bayang-bayang malam telah datang.
Kehidupanya adalah sebuah audisi, ktika dia harus meruntuhkan pesaing-pesaing dalam dirinya sendiri. Dalam lembahnya, dia menyulam benang-benang kehidupan tuk menutup diri dari alamnya. Kekosongan membuatnya riang tiada berpikir sedikitpun dalam benang-benang yang menyelimutinya. Namun didalam benang-benang itu dia tercabik oleh dua kekuatan, yang pertama mengangkatnya dan mempertontonkan indahnya semesta dari balik kabut mimpi-mimpi. Yang kedua memaksanya melepas benang-benang itu dan memenuhi pengelihatannya dengan debu dan menyekapnya dengan segala kekhawatiran dan lamunan... Hanya bukit dan lembah yang setia mendengarkan lolongannya. Namun jeritan dan kekosongan didalam benang-benang itu berhasil memenangkanya dari audisi.
Dia datang dari sumber lubang pepohonan...memberanikan diri mengikuti sebuah audisi kehidupan kupu-kupu.. dan kini... perubahan itu datang...
Inilah hidup si kupu-kupu karena dia telah jujur menghadapi perubahan dalam kehidupanya....

LoGikA tERbAlik dALaM cINtA

LAFAZ CINTA Sang Pujangga
”Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”.

Ada sebuah logika terbalik dalam cinta... atau mungkin lebih tepatnya, bahwa sesungguhnya logika tak mampu menjamahnya. Selayaknya sebuah teratai putih yang terapung diatas permukaan air, yang tak dimengerti oleh orang yang melihatnya bahwa dibawah teratai indah itu terdapat jaring-jaring akar yang terbelit dengan keruwetanya. Dan itu, hanya bisa dipahami oelh si teratai sendiri.
Ketika seseorang jatuh cinta, dia akan mengalami sebuah perubahan. Segala bentuk perubahan itu bisa dilihat sebagai perubahan perilaku, keadaan emosional atau pola pikir yang dirasa berubah kearah positif atau negatif bagi dirinya sendiri atau orang lain.
Terkadang... cintapun tak membutuhkan balasan dari orang yang di cintainya. Akan sangat terdengar omongkosong mungkin...atau..itu semua hanya ada dalam rekaan cerita fiktif belaka.
Semua orang pastinya kan bahagia, jika apa yang diharapkan dari orang yang dia cintai terwujud. Bagaikan seorang putri yang hidup bersama selamanya dengan pangeran yang dicintainya. Kehidupan yang dijalani dengan bahagia dan berahir dengan happyending seperti dalam dongeng dan romansa cinta...Tentu saja semua orang menginginkanya. Tapi....hey...??!! ini bukan dongeng cinderella dan Romansa cinta Romeo-Juliet.
Cinta selayaknya kasih sayang bunda yang hanya dibaca berdasarkan logika terbalik semata. Bukankah seorang bunda hanya mengharapkan balasan agar orang yang dicintainya bahagia?? Seorang bunda mencintai hanya berdasarkan ketulusan yang diliputi naungan doa dan hanya berharap balasan dari Tuhan agar orang yang dicintainya kelak bisa meraih harapan dan hidup bahagia... Lalu...bisakah cinta itu dijelaskan dengan logika??
Logika cinta itu terbalik... Sebuah rasa dalam jiwa terkadang tak dapat dijelaskan oleh kata, dan Cinta hanya dimengerti oleh orang yang merasakannya. Selayaknya yang Gibran kata bahwa ”Cinta yang dibasuh oleh airmata akan tetap murni dan indah sentiasa”.
Dengan cinta sederhana itu, seorang pribadi bisa belajar dari sisi-sisi ketidakbahagiaanya dan bahagia dalam ketidakbahagiaanya... Itulah ketika kita mencintai seseorang dengan tulus dan sederhana...

Orang berkata:
”ketika kau ingin memahami orang lain, maka terlebih dulu pahamilah dirimu sendiri”.
Tapi aku berkata:
”Dengan mencintai orang lain, aku akan dapat memahami diri sendiri..”

"Magical Template" designed by Blogger Buster